Mengenal Gangguan Autis Sejak Dini

Sunday, October 24, 2010


SEORANG anak sibuk dengan dunianya sendiri. Biasanya anak itu menunjukkan satu perilaku yang monoton selama berjam-jam. Misalnya menggerak-gerakkan tangannya dan meremas-remas kertas. Semua itu dilakukan tanpa tujuan jelas dan tidak terarah. Anak sulit untuk berkomunikasi dengan orang lain. Waspadalah, hal itu bisa jadi satu pertanda, anak menderita autis.
Autis, makhluk apa ini? Autis merupakan suatu gangguan perilaku anak. ''Itu bukan penyakit, yang bisa disembuhkan. Penanganannya harus dengan melakukan terapi, '' kata psikolog Dra. Retno I.G Kusuma.
Autisme adalah salah satu jenis gangguan perkembangan pada seseorang. Biasanya tanda autis muncul sejak bayi. Akan tapi gejalanya bisa terdeteksi saat anak berusia 1 s.d 3 tahun. Biasanya autis terjadi pada bayi yang sulit atau bermasalah. Misalnya bayi menangis terus atau justru diam terus. Banyak orangtua merasa senang kalau bayinya "anteng", tidak rewel dan diam terus.
Ia mengatakan, anak autis punya beberapa masalah. Mereka tidak mampu bergaul, berbicara dan bertingkah laku dengan baik. Memang, banyak anak autis mampu berbicara, namun sebenarnya mereka belum memiliki pemahaman yang baik tentang apa yang orang lain ucapkan. Anak autis juga kurang bisa mengendalikan emosi.
Menurut Retno, autis disebabkan beberapa hal, diantaranya keracunan pada otak anak. Dalam beberapa kasus juga ditemui pada ibu-ibu yang mempunyai riwayat kehamilan menderita depresi atau stress.
Bagaimana menangani autis? Tidak perlu cemas. Orangtua harus sabar dan segera mencari psikolog/psikiater anak dan tempat terapi. Saat ini banyak tempat terapi bagi penderita autis. ''Anak autis perlu banyak terapi, misalnya terapi obat untuk menetralisir keracunan di otak dan menambah vitamin, '' tandas Retno, pemilik Biro Psikologi dan Pusat Terapi Anak ini.
Psikolog ini menambahkan, terapi lainnya seperti terapi bicara dan terapi perilaku. Terapi ini harus dilakukan secara rutin. Penanganan anak autis tidak bisa dilakukan singkat. Paling cepat satu tahun. Bila tidak ditangani intensif, autisme bisa muncul lagi dalam bentuk lain pada waktu remaja. Gangguan tersebut menjelma jadi gangguan perilaku, kurang percaya diri dan introvert (pribadi tertutup).
Memang, autisme tidak selalu identik dengan kekurangan dan ketidakmampuan. Bahkan pada umumnya anak-anak autis mempunyai kemampuan menonjol di bidang visual. Mereka lebih mudah untuk mengingat dan belajar. Bila diperlihatkan gambar atau tulisan dari benda-benda, kejadian, tingkah laku maupun konsep-konsep abstrak.
Untuk menangani anak autis, menurut Retno, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan orangtua. Harus sabar dan intensif mempraktekkan kembali terapi autis kepada anak di rumah. Makanan yang diberikan pada anak juga sebaiknya dijaga dengan melakukan diet bebas gandum dan bebas kasein (cfgf) yang terdapat pada susu sapi.
Anak-anak juga harus menghindari makanan terlalu manis, coklat, makanan yang diawetkan dan makanan mengandung banyak "msg". Penanganan lainnya, orangtua perlu menciptakan situasi dan suasana nyaman dan damai di mana anak harus berkomunikasi untuk memperoleh keinginannya. Gunakan ekspresi wajah dan gerak tubuh sebanyak mungkin. Anak-anak perlu diberi contoh, dan jangan terlalu banyak dikoreksi. Bahasa yang digunakan untuk anak autis harus sederhana, singkat dan bila perlu intonasinya menarik.
Bicaralah dengan posisi sejajar anak dan menjaga kontak mata. Terakhir, ciptakan pula suasana komunikasi yang menyenangkan, hangat dan menarik. Nah, bila semua ini diterapkan dan dipahami niscaya autis tak perlu jadi hal yang "menakutkan" lagi. (ari/DBS)

selengkapnya......

Tips Mudik Dengan Bayi dan Balita

Friday, September 3, 2010


Saat masih single, mudik sampai berjejal-jejal dan ‘ditumpuk’ dengan pemudik lain di dalam kendaraan, saya sih hayu aja. Tapi kalau bawa anak? Oh, no… no.. no!!!

Makanya, sebelum punya kendaraan sendiri pun, saya dan suami sampai pinjem mobil buat mudik. Kalau ngga begitu, mendingan ngga mudik aja. Paling kalau sampai ngga mudik, kami dijemput orangtua kami biar bisa pulang ke kampung halaman Dulu gitu loh…

O, ya. Ini persiapan dan perlengkapan mudik kalau bawa anak-anak.

Tools on the trip:

1. Mainan.
Mainan yang bisa bikin anak anteng dan nyaman selama perjalanan. Tentu saja yang aman dan tidak mengganggu perjalanan. Ingat, jangan pakai sepeda dalam mobil!
2. Kantong muntah.
Perlu disiapkan. Siapa tahu pas anak pusing dan mual, kendaraan sedang kagok-kagoknya, tidak bisa menepi. Misalnya pas macet di pinggir jurang.
3. Makanan dan minuman ringan.
Untuk ini, saya agak royal dan memanjakan. Saya bawa soft drink, aneka snack kering dan permen. Makanan pantangan semua sih, yang berMSG tinggi dan ngga bergizi. Tapi ngga apa-apa. Setahun sekali ini. Yang penting makanan model begitu cukup efektif mengatasi mual dan enek selama perjalanan.



4. Lagu-lagu di MP3.
Tanpa musik, perjalanan ngga bakalan seru!
5. Bantal.
Pilih yang ‘derajat keempukannya’ paling disukai anak. Diberi sarung yang adem dan wangi.
6. Tissue basah dan kering.
7. Baju ganti.
Namanya juga anak-anak. Kalaupun ngga keringatan atau terkena muntah, minumnya kan suka berceceran.
8. ASI yang cukup.
Sebelum mudik, ibu harus makan-makanan yang bisa memperlancar ASI. Banyak minum juga. Enak kan pakai ASI. Ngga beribet seperti harus bawa susu di dot.
9. Diaper ganti.
Plus baby wipesnya. Siapa tau bayi ‘ngebom’ di jalan. Harus cepat-cepat diganti. Biar ngga iritasi kulit halusnya.

Recommended to do:

1. Mudiklah ketika kesehatan anak dalam kondisi prima. Makanya sebelum mudik, kesehatan anak harus benar-benar dijaga.
2. Pergi saat jam tidur anak-anak. Misalnya malam hari, atau pas jam anak-anak tidur siang. Biar selama perjalanan mereka tertidur.
3. Pilih waktu yang kira-kira jalanan tidak begitu parah macetnya.
4. Pakai mobil ber-AC, kalau tidak memungkinkan, perginya malam atau dini hari aja. Kasian anak-anak kalau harus sampai kegerahan dan rewel. Minimal sirkulasi udara lancar. Tapi jendela jangan dibuka terlalu lebar. Angin dan debu dari luar bisa bikin batuk.
5. Sering berhenti. Untuk menghindari kejenuhan dan mabuk perjalanan. Bagusnya di tempat-tempat yang berhawa sejuk dan berpemandangan indah. Sekaligus memperkaya pengalaman anak. Di mesjid juga oke banget.
6. Bikin permainan, bercerita atau nge-jokes.
Sekali lagi, ini untuk membuat anak tetap stay tune di perjalanan. Misalnya main tebak-tebakan atau sedikit bodor garing
7. Selalu mewanti-wanti dan mengontrol kalau anak-anak tiba-tiba membuka pintu atau jendela mobil. Ini berlaku untuk mobil yang ngga ada fasilitas central-locknya.
8. Sering bertanya: mau pipis? mau muntah? pusing ngga? Biasanya anak-anak suka bikin kejutan super soalnya…
9. Setengah jam sebelum pergi, anak dikasih ‘obat anti mabok’. Hihi… Kalau saya sih sebenarnya jarang banget kasih ini. Suka lupa. Tapi kalau poin-poin diatas dipraktekkan, selama ini perjalanan aman-aman saja
10. Mobil dan sopir dalam keadaan prima. Jangan sampai mogok, ban copot, kopling macet, sopir ngantuk dll. Tips-tips tentang kendaraan dan tetek bengeknya, silakan search di google…

Apa lagi ya?
Selamat mudik aja deh. Semoga selamat sampai kampung halaman. Jangan lupa oleh-olehnya! :-)

Sumber: Ratna Respati

selengkapnya......

Puasa Selama Kehamilan? Bolehkah?

Thursday, August 19, 2010


Ini menjadi salah satu pertanyaan yang sering menjelang Bulan Puasa Rhamadan. Jadi bolehkah puasa selama anda hamil? Kapan seorang Ibu hamil sebaiknya menghentikan puasanya.

Saran yang dapat kami berikan bagi Ibu hamil yang berpuasa:

Ya, Seorang wanita hamil tetap dapat berpuasa selama kehamilannya, asalkan Ibu Hamil sanggup memenuhi asupan gizi dan kalori yang diperlukan selama kehamilannya ini untuk perkembangan dan pertumbuhan bayinya.

Selama berpuasa asupan gizi dan kalori tetap dibuat sama dengan saat tidak berpuasa, yaitu gizi seimbang dengan komposisi 50 % karbohidrat, 30 % protein, dan 10-20 % lemak. Hanya waktunya yang dipindah, semua asupan dipenuhi pada saat sahur, berbuka puasa dan waktu antara berbuka - sahur.

Selama hamil, asupan kalori sangat diperlukan sebagai nutrisi untuk perkembangan dan pertumbuhan bayi dalam kandungan. Jadi bagi ibu hamil, sebaiknya lebih memperhatikan asupan makanan yang dimakan saat sahur, berbuka puasa dan waktu antara berbuka - sahur.


Dan sebaiknya Ibu hamil memutuskan puasanya bila,:

> Ibu hamil muda dengan morning sickness atau mual-muntah saat kehamilannya.

> Ibu hamil dengan komplikasi lain atau Ibu hamil yang kehamilannya bermasalah, seperti Ibu hamil dengan tekanan darah tinggi, atau kencing manis, atau gangguan pencernaan dll.

> Percayalah terhadap isyarat tubuh anda, bila anda merasa sangat lelah dan tidak dapat melanjutkkan puasa, pusing, gemetar, mual, dan demam ( ini adalah gejala berkurangnya kadar gula dalam darah anda(hipoglikemia)); dan menyadari bahwa asupan kalori makanan untuk kehamilan anda tak mencukupi, maka Ibu hamil sebaiknya memutuskan yang terbaik untuk dirinya dan juga bayi dalam kandungannya. Memaksakan berpuasa hanya akan mengganggu perkembangan janin.


(c) Dr.Suririnah

selengkapnya......

SEBELUM ORGAN BAYI TUMBUH SEMPURNA

Sunday, December 27, 2009


Kenali kelainan-kelainan bayi baru lahir dengan mengetahui bagaimana organ tubuhnya berkembang.
Kita mungkin pernah mendengar bahwa bayi A menderita kelainan sejak lahir. Perlu diketahui, sebenarnya sebelum dan sesudah lahir, banyak sekali organ tubuh bayi yang belum berfungsi secara sempurna. Namun, seiring dengan waktu, organ-organ tersebut akan berfungsi normal.
Hanya saja, jika organ tersebut tak berfungsi normal sesuai waktunya biasanya akan timbul masalah.
Simak penjelasan dr. Rulina Suradi, Sp.A.(K), dari Subbagian Neonatologi, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta berikut ini :

Jantung, Peredaran Darah, Dan Paru-Paru
Jantung, imbuh Rulina, merupakan organ tubuh yang besarnya hanya sekepalan tangan. Terletak di rongga dada (toraks) sebelah kiri. Benda ini terdiri atas otot-otot kuat yang saling bersambung, sehingga membentuk jaringan.

Jantung memiliki empat ruangan dua di sebelah kiri dan dua di kanan dengan fungsi berbeda. Fungsi intinya adalah mengalirkan darah ke seluruh tubuh, dan setelah darah mencapai ujung, secara otomatis akan kembali ke sumber semula. Dua ruangan di kiri, sebelah atas disebut atrium (serambi) kiri, sedang bagian bawah dinamai ventricle (bilik) kiri. Di ruangan kanan juga sama, yaitu atrium dan ventricle kanan.

Kondisi jantung bayi saat masih dalam kandungan berbeda dengan saat lahir. Ketika masih dalam kandungan, jantung bayi belum sepenuhnya berfungsi secara normal. Peredaran darah dari jantung kiri bisa langsung melewati jantung kanan. Begitu juga sebaliknya. Tidak ada sekat yang memisahkannya. Akibatnya, darah bersih dapat bercampur dengan darah kotor. Namun secara medis, kondisi ini tak jadi masalah, karena kala dalam kandungan, janin menerima pasokan darah dan oksigen dari sang ibu lewat plasenta. Barulah setelah beberapa jam bayi dilahirkan, saluran tersebut secara otomatis langsung menutup. "Lamanya, kurang lebih 4-8 jam," ungkap Rulina.
"Saat lahir, paru-paru bayi juga mulai berfungsi, sehingga menimbulkan tekanan udara yang kuat di sekitarnya. Tekanan tersebut mengakibatkan saluran yang menghubungkan bilik kiri dan kanan jantung menutup."

Namun, ia mengingatkan, jika saluran peredaran darah tersebut tidak menutup lebih dari 24 jam, maka orang tua harus mewaspadainya karena hal itu menandakan jantung si bayi mengalami kebocoran. Kelainan ini disebabkan posisi sekat pemisah bilik atau serambi jantung kiri dan kanan belum atau tidak tertutup sempurna. Akibatnya, jantung tidak berfungsi dengan baik. Padahal, jantunglah yang memompa darah ke seluruh tubuh.

Dari bilik kiri jantung, darah bersih berwarna merah segar yang mengandung 96% zat asam dialirkan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah nadi. Saat kembali ke bilik kanan, darah tidak lagi bersih dan warnanya berubah menjadi lebih tua. Pada saat itu kadar zat asamnya tinggal sekitar 60%. Selanjutnya, darah kotor ini dipompa dari bilik kanan ke paru-paru untuk mengambil zat asam sehingga menjadi bersih kembali. Begitulah aliran darah pada tubuh berlangsung tanpa henti sepanjang hidup kita.

Nah, bila sekat pemisah tidak tertutup sempurna, tentu saja darah kotor akan bercampur dengan darah bersih. Akibatnya kerja jantung akan terganggu. Hal ini ditandai dengan sering keluarnya tanda-tanda biru, khususnya pada kuku jari tangan dan bibir bayi. Selain itu, badannya kurus, pucat, dan tidak bersemangat. Aktivitas pun terbatas, bayi akan mudah capai dan sering menderita demam.

Cara mengatasinya bermacam-macam, tergantung faktor penyebabnya. Ada yang dengan obat-obatan saja sudah cukup, tapi ada juga yang harus ditangani lewat tindakan operasi. "Penting diperhatikan, tidak semua gangguan jantung ini harus ditangani langsung dengan cara menutup saluran yang bocor." Masalahnya, dalam situasi dan kondisi tertentu, penutupan saluran tersebut malah bisa berdampak fatal, yaitu meninggal dunia. Pada mereka, biasanya diberikan obat-obatan terlebih dahulu, setelah itu barulah dilakukan operasi.

Jadi, kapan tindakan operasi dilakukan, sepenuhnya harus dengan pertimbangan dokter. Semakin besar usia sang bayi, semakin besar ukuran jantungnya. Dengan begitu operasi pun lebih mudah dilakukan.

Tingkat kesulitan pembedahan penyakit jantung bawaan sangat tergantung pada letak dan parah tidaknya kelainan itu. Ada yang cukup dilakukan satu kali koreksi, ada yang sampai beberapa kali. Selama dilakukan pembedahan jantung terbuka diperlukan mesin jantung-paru yang menggantikan fungsi jantung dan paru-paru untuk sementara.


Ubun-Ubun

Ubun-ubun atau yang dalam istilah kedokterannya fontanela merupakan bagian kecil dari kepala bayi. Bentuknya sangat lunak. Itu sebab, orang tua kerap tidak tega menyentuh atau merawatnya. Padahal, ubun-ubun sebenarnya tak selunak yang kita bayangkan karena ia dilapisi membran (selaput tipis jaringan) yang cukup kuat.
Perlu diketahui, kepala bayi dibentuk oleh beberapa lempeng tulang, yaitu 1 buah tulang di bagian belakang (tulang oksipital), 2 buah tulang di kanan dan kiri (tulang parietal), dan 2 buah tulang di depan (tulang frontal). Di antara tulang-tulang yang belum bersambung itu terdapat celah yang disebut sutura. Sutura-sutura ini ada yang membujur dan ada pula yang melintang. Nah, titik silang celah-celah itulah yang membentuk ubun-ubun depan (besar) dan ubun-ubun belakang (kecil).

Sebenarnya, hingga usia beberapa bulan setelah dilahirkan, tulang-tulang kepala bayi belum menyambung satu sama lain. Namun, letaknya telah tersusun berdampingan secara rapi. Ubun-ubun yang tak segera menutup inilah yang kerap mengkhawatirkan para orang tua. Padahal, dengan begitu otak bayi justru bisa berkembang normal.

Ubun-ubun dan sutura-sutura ini normalnya menutup antara usia 6-20 bulan. Secara kasat mata, akibat proses penutupan tulang tengkorak yang kelewat dini ini bisa dilihat melalui bentuk kepala yang tak normal. Ini terjadi karena pertumbuhan kepala cenderung mengarah ke tulang yang suturanya menutup belakangan. Contohnya, kalau sutura bagian depan sudah menutup lebih dulu, pertumbuhan kepala akan lebih mengarah ke belakang, dan akibatnya kepala jadi panjul.

Penyebab ubun-ubun cepat menutup biasanya adalah kelainan bawaan, adanya infeksi selama kehamilan, atau adanya gangguan perkembangan jaringan otak dan kelainan tulang seperti osteopetrosis (pertumbuhan dan kepadatan tulang yang berlebihan).

Sudah pasti, ubun-ubun yang menutup terlalu cepat akan menghambat perkembangan otak bayi dan menimbulkan gangguan. Dengan kata lain, sel-sel otak yang seharusnya berkembang malah tertahan oleh tulang tengkoraknya sendiri. Biasanya, gangguan yang muncul berupa cerebral palsy atau kelumpuhan yang sifatnya kaku.

Terlebih bila proses penutupan tulang tengkorak ini berlangsung sejak ia baru lahir atau berada di kandungan, proses keterhambatan perkembangan otaknya tentu lebih lama sehingga gangguan yang timbul akan lebih banyak dan berat. Artinya, manifestasi gangguan tumbuh kembang pada bayi yang bersangkutan bisa berbeda-beda, tergantung bagian otak sebelah mana yang perkembangannya terhambat, dan kapan terjadinya proses penghambatan atau penutupan itu.

Cara mengatasinya adalah dengan operasi melepas sambungan yang menutup terlalu cepat. Dengan begitu, diharapkan otaknya bisa terus tumbuh dan berkembang.


Usus Besar

Bayi baru lahir umumnya sudah bisa BAB (Buang Air Besar) dalam waktu 24 jam setelah persalinan. Feses di hari pertama dan kedua disebut mekonium yang berwarna gelap atau hitam. Tak heran bila ada yang menyebutnya tahi gagak. Pada hari ketiga, feses atau tinjanya mungkin sudah bercampur dengan susu atau kotoran peralihan (campuran tahi gagak dan susu). Perlu diketahui, bayi yang diberi ASI, biasanya pada hari-hari pertama atau minggu-minggu pertama akan lebih sering buang air besar, bisa sampai 6 kali lebih.

Kalau dalam waktu lebih dari 48 jam mekoniumnya tidak keluar-keluar, biasanya bayi diduga menderita hirschprung. Kelainan hirschsprung terjadi pada persarafan usus besar paling bawah, mulai anus hingga ke bagian usus di atasnya, termasuk ganglion parasimpatis yang membuat usus bisa bergerak melebar dan menyempit. "Nah, pada bayi yang punya kelainan hirschsprung, persarafan ini tak ada sama sekali atau kalaupun ada, jumlahnya sedikit sekali. Ada-tidaknya persarafan inilah yang menentukan derajat ringan-beratnya kelainan hirschsprung," urai Rulina.

Akibat selanjutnya, kotoran akan menumpuk dan menyumbat usus di bagian bawah, hingga bayi tak bisa BAB. Penumpukan kotoran di usus besar ini akan diteruskan dengan pembusukan. Jika terjadinya sampai berminggu-minggu atau berbulan-bulan tanpa ketahuan, di dalam usus besar akan berkembang banyak kuman. Pada akhirnya timbullah radang usus.

Bisa juga, proses pembusukan ini kemudian menghasilkan cairan yang akan merembes keluar tanpa bisa ditahan oleh anus karena tak ada persarafan tadi. "Mungkin saja orang tua ataupun dokter tak menyadari adanya kelainan ini, dianggapnya si bayi mengalami mencret atau diare biasa."

Untuk mengatasinya, pada bayi akan dilakukan pemeriksaan barium enema lewat anus. Dengan begitu, bisa kelihatan seberapa sempit ususnya dan seberapa panjang kerusakan yang terjadi. Bagian usus yang tidak memiliki persarafan akan dibuang lewat operasi pertama. Berikutnya, operasi dilakukan lagi; kalau ususnya bisa ditarik ke bawah, ia akan langsung disambung ke anus. Kalau ternyata ususnya belum bisa ditarik, maka dibuatlah lubang di dinding perut (kolostomi) untuk saluran BAB.

Nanti, kalau ususnya sudah cukup panjang, operasi bisa dilakukan lagi untuk menarik dan menyambung ususnya langsung ke anus. Menunggunya bisa sampai 3 bulan, tergantung kondisi anak yang bersangkutan. Selama itu pun, kondisinya tetap harus dikontrol, dua minggu sekali atau sebulan sekali.

Menurut Rulina, setelah dibuang dan diperbaiki kelainannya, BAB anak biasanya akan normal kembali. Kecuali jika kelainannya parah sampai usus besarnya harus dibuang semua. Masalah tidak akan berhenti sampai di situ.


Bilirubin/Kuning Pada Bayi

Timbunan bilirubin (zat/komponen yang berasal dari pemecahan hemoglobin dalam sel darah merah) di bawah kulit akan membuat kulit bayi terlihat kuning. Perlu diketahui, pada saat masih dalam kandungan, janin membutuhkan sel darah merah yang sangat banyak karena paru-parunya belum berfungsi. Sel darah merah inilah yang bertugas mengangkut oksigen dan nutrien dari ibu ke janin melalui plasenta. Nah, sesudah ia lahir, paru-parunya berfungsi, sehingga sel darah merah ini tidak dibutuhkan lagi dan dihancurkan.

Bilirubin alias pecahan hemoglobin ini bermacam-macam sifatnya, ada yang indirect, direct, dan bebas. Yang indirect atau belum diolah adalah bilirubin yang terikat albumin sebagai zat pengangkutnya. Ia akan dibawa ke hati untuk diproses menjadi bilirubin direct. Bilirubin direct ini lalu disimpan di kantong empedu. Namun demikian, kadang tidak semua hasil pemecahan hemoglobin bisa diikat oleh albumin dan dibawa ke hati. Bagian yang tidak terangkut inilah yang disebut bilirubin bebas.

Bilirubin bebas bisa menyebar ke mana-mana ke seluruh tubuh. Jenis inilah yang dapat menimbulkan bahaya, terutama kalau sampai masuk ke otak, karena tak bisa dilepas lagi. Akibatnya, akan muncul gangguan yang disebut kern ikterus atau timbunan bilirubin di dasar otak.

Namun, kalau bayi sampai kuning, kita tidak perlu keburu khawatir. Kasus ini sebenarnya terbagi atas kuning faali (fisiologis) dan kuning patologis (penyakit). Yang bersifat patologis dapat mengganggu tumbuh kembang bayi di kemudian hari. Sementara yang faali adalah sesuatu yang normal. Umumnya terjadi di hari kedua atau ketiga setelah kelahiran hingga 7 atau 14 hari. Walaupun bersifat faali, keberadaannya tetap perlu diwaspadai, karena mungkin saja dilatarbelakangi masalah patologis.

Selain itu, bayi yang minum ASI dapat juga terlihat kuning pada minggu pertama dan kedua, yang nantinya berangsur-angsur hilang sendiri. Di dalam ASI memang ada komponen yang mempengaruhi timbulnya kuning pada bayi. Jadi, kuning ini hanyalah gejala biasa.

Kendati demikian, orang tua harus tetap waspada. Terutama kalau si bayi sedang dalam keadaan sakit yang berkaitan dengan acidosis (penyakit yang berhubungan dengan menurunnya kadar pH darah). Misalnya, sesak napas atau mencret berat. Sebab, saat itu kadar bilirubin bebas bisa meningkat.

Inilah sejumlah hal mencurigakan yang harus diwaspadai.

1. Kuning muncul cepat sekali. Misal, pagi lahir, sore sudah kuning.
2. Peningkatan kadar kuning berlangsung sangat cepat.

3. Kuning berlangsung lama atau proses menghilangnya sangat lambat, misalnya sesudah 2 minggu kuningnya masih ada.

"Jika salah satu atau semua hal itu terjadi pada si kecil, segera bawa ia dokter!" pesan Rulina. "Mendeteksi bayi kuning atau tidak, sebetulnya tak terlampau sulit. Lihat di bagian putih matanya. Kalau memang kuning, warna itu akan terlihat jelas di sana."



Saeful Imam. Iman Dharma S./nakita


selengkapnya......
 
 
 

Total Pageviews