Sebenarnya posisi tidur yang bagaimanakah yang terbaik selama kehamilan? Pada kehamilan trimester awal dimana perut belum membesar, ibu hamil dapat tidur dan beristirahat dengan berbagai posisi apapun. Yang penting adalah dapat memberikan rasa nyaman untuk ibu hamil untuk dapat tidur.
Tapi ketika kehamilan selanjutnya ketika perut semakin membesar maka saat tidur andapun mulai tak nyaman lagi, karena perut yang membesar, gerakan bayi dan kram kaki. Tapi percayalah ini semua mempunyai nilai yang besar dengan hadirnya si kecil nantinya.
Jadi sebenarnya posisi tidur yang bagaimanakah yang terbaik selama kehamilan?
JAKARTA – Autisme yang banyak melanda berbagai kalangan masyarakat, hingga kini masih dianggap bagai sesuatu aib. Berbagai upaya kemudian dilakukan untuk menghindarinya. Bagi para penderita yang kurang beruntung, kebanyakan dianggap gila dan dikucilkan jauh-jauh. Padahal sebuah kenyataan terakhir membuktikan, bahwa para penderita autisme bisa terus bertahan dan berprestasi, karena adanya dukungan orang tua dan keluarga yang terus-menerus.
Kenyataan itu juga yang kemudian diungkapkan dalam acara peluncuran buku Autistic Journey yang dikarang oleh Oscar Yura Dompas, di Jakarta, belum lama ini. Oscar yang juga seorang penderita autis sejak masih remaja, mencoba menguraikan bagaimana pahit getir kehidupan yang harus dijalaninya, semenjak ia di vonis mengidap kelainan otak sejak usia empat tahun.
”... people hadn’t accepted me well because I didn’t behave normally. Everybody often gave me a hard time and I could only wonder why...,” begitu tulis kata-kata resah dalam sebait kalimat di buku berteks bahasa Inggris tersebut. Sebaris kalimat itu yang kemudian menjadi bahan pendapatnya mengenai autisme yang dideritanya. Menjadi cetakan sejarah panjang mengenai hidup dari sisi pandang seorang penderita autis.
Kini Oscar telah berusia 25 tahun, dan baru tanggal 11 April lalu ia merayakan ulang tahunnya. Tampaknya tahun ini menjadi salah satu ulang tahun yang paling bermakna untuknya. Akhirnya ia bisa menunjukkan kepada kita semua, bahwa penderita autis seperti dirinya ternyata juga bisa hidup normal seperti yang lain. Bisa berpikiran sama, tersentuh juga oleh syair lagu, bisa jatuh cinta, suka olahraga, dapat bersekolah hingga setingginya dan meraih cita-cita.
Catatan-catatan hariannya tersebut selama 25 tahun, yang kemudian dibukukan menjadi seperti adanya. Membaca per bait ceritanya, seperti mengingatkan pada sebuah jalan normal kehidupan manusia. Bukan jalan tidak serupa, seperti yang kadang diceritakan para ahli mengenai para penderita autis. Dunia yang dimiliki Oscar, sepertinya tak asing. Banyak terdapat di mana-mana. Cerita normal umat manusia, dalam menghadapi hidup.
Ini tergambar bagaimana ia jatuh cinta pada seorang gadis, bahkan semenjak ia berumur 15 tahun. Bagaimana ia harus bertarung dengan sang kakak, karena terlalu sering membuatnya marah. Seperti juga kita, atau bahkan orang-orang biasa lainnya.
Kesukaannya pada lagu-lagu sudah tertangkap semenjak ia kecil. Ternyata Oscar sering melantunkan lagu-lagu di saat sendiri. Hingga akhirnya orang tuanya merasa cemas dengan kebiasaannya tersebut. Dan memutuskan mengirimnya ke Australia.
Di Australia, Oscar mulai bersepakat dengan dirinya untuk mulai bersikap baik dengan siapa saja yang dikenalnya. Namun, ternyata itu juga tak bertahan lama. Ia kembali dipulangkan karena sifatnya yang kadang sering melanggar peraturan.
Kini Oscar telah bersekolah hingga tingkat tinggi di Universitas Atmajaya. Bakatnya pada dunia penulisan membuatnya memberanikan diri mengumpulkan hasil catatan-catatan pribadinya tersebut dan mengumandangkan pada dunia. Bahwa menjadi seorang penderita autis bukanlah sesuatu hal yang memalukan. Bahkan membanggakan menurutnya. ”Karena kita bisa menjadi diri sendiri,” ucapnya dengan nada jelas.
Dukungan Keluarga
Namun semua hal ini ternyata tak lepas dari dukungan keluarga Oscar, yang sepertinya tak tak kenal lelah dalam menghadapi seorang anak penderita autis seperti Oscar. ”Kasus seperti Oscar memberikan pelajaran baru kepada saya. Bahwa ternyata, penderita autis juga bisa bertahan dan memiliki harapan dengan dukungan keluarga yang tanpa henti,” ungkap Tika Bisono, ahli psikologi yang hadir juga sebagai pembicara dalam acara tersebut.
Tutur kata yang terstruktur dan sistematis, kemudian diungkapkan juga oleh Tika Bisono sebagai salah satu indikator harapan tersebut. Meskipun ia juga menggaris bawahi tingkat beratnya kerusakan otak yang dialami para penderita autis, seperti Oscar. ”Namun dari sisi lain paling tidak kita menemukan, bahwa perhatian keluarga merupakan salah satu kunci utama keberhasilan penderita autis untuk mengarungi hidup,” tambahnya.
Sementara itu Ira Dompas, ibu dari Oscar menyatakan bahwa perjuangan panjangnya dalam menemani buah hatinya untuk bersama mengarungi hidup dan sukses menjalaninya, bukanlah sesuatu hal yang luar biasa. ”Oscar merupakan perekat keluarga kami, maka sesuatu hal yang normal bila kami tetap mempertahankannya,” urai Ira.
(str-sulung prasetyo)
Autisme, dan dunia anak-anak special needs pada umumnya, di Indonesia sampai hari ini tampaknya masih harus merana. Belum ada perhatian istimewa dari negara berupa tersedianya payung hukum dan anggaran yang lebih memadai untuk menyediakan dokter ahli, lembaga penelitian, obat-obatan, alat terapi, klinik, terapis, dan pusat terapi yang murah (bahkan gratis), padahal itu merupakan kewajiban negara. Belum lagi sosialisasi dan gerakan penyadaran (kampanye media, penyuluhan, dll) masih sangat minim.
Masyarakat sendiri, karena minimnya sosialisasi, masih banyak yang memandang negatif keberadaan anak-anak autis, sehingga semakin menambah beban mental para orang tua mereka. Wajar bila banyak keluarga anak-anak istimewa ini, khususnya dari kalangan dhuafa, dibuat 'menjerit'. Jerit pilu yang disebabkan oleh berbagai kepedihan mengasuh anak-anak yang mengalami gangguan amat kompleks dan seperti tak berkesudahan. Ditambah lagi oleh bayangan ketakutan tentang masa depan mereka yang tampak suram serta oleh biaya terapi yang amat mencekik.
Biaya terapi yang harus dikeluarkan para orang tua autis di negeri ini memang terbilang sangat mahal. Apalagi terapi tersebut memakan waktu yang sangat lama dan tidak bisa dipastikan akhirnya. Sehingga keberadaan anak-anak istimewa itu membuat mereka harus habis-habisan dalam hal keuangan. Banyak orang tua yang patah arang karena biaya terapi bagi anaknya melebihi anggaran hidup yang pokok bagi seluruh anggota keluarganya. Tidak sedikit pula yang mengalami depresi sehingga menambah masalah baru seperti ketidakharmonisan dalam keluarga yang berujung pada perceraian. Bisa dibayangkan, betapa pedihnya jika keadaan itu harus dialami pula oleh keluarga yang kurang mampu.
Salah satu sebab utama mahalnya biaya terapi bagi anak-anak penderita autisme adalah karena tingginya juga bayaran untuk profesi di dunia autis, baik terapis, dokter, psikiater, maupun profesi terkait lainnya. Padahal masa depan anak-anak autis tergantung dari terapi yang optimal.
Pilu Adi…
Sambil menjerit-jerit, Adi terus menghantamkan kedua tangannya keras-keras ke wajahnya sendiri
. Meski wajah itu sudah sangat memar dan lebam menghitam, tak terlihat rasa sakit sedikit pun dari anak yatim tersebut. Padahal kedua tepi mulutnya sudah tampak luka sobek. Beberapa giginya pun sudah tanggal. Begitulah kondisi penyandang autis berusia 18 tahun itu jika sedang tantrum (mengamuk). Kini, akibat sikap agresif yang berlangsung hampir setiap hari tersebut, kedua mata Adi juga sudah mulai mendekati kebutaan. Selain agresif dan hiperaktif, Adi juga belum bisa berbicara lancar (nonverbal). Bahkan, belum bisa mandiri dalam banyak hal. Semua ini karena Adi belum tertangani dengan terapi yang memadai. Mahalnya biaya terapi menjadi sebab utama terhambatnya proses penyembuhan Adi. Pilu Hamzah… “Biar jauh nggak masalah, yang penting Hamzah bisa diterapi,” ujar Sunarto berharap. Buruh kecil sebuah konveksi ini datang bersama istrinya ke YCKK, pertengahan Nopember lalu, untuk mendaftarkan Hamzah, anak pertamanya yang menderita autis. Sebelumnya Hamzah pernah diterapi oleh seorang terapis di dekat tempat tinggalnya, di daerah Cijantung. “Cuma, karena biayanya naik jadi 75 ribu per jam, terpaksa saya stop,” jelas pria yang mengaku masih menumpang di rumah mertuanya itu. Tingginya biaya terapi, ditambah melambungnya biaya hidup membuat Sunarto berharap pada YCKK yang program terapinya tidak dipungut biaya. Sayangnya, LSM ini baru bisa menerima Hamzah dalam daftar tunggu (waiting list) bersama belasan anak lainnya. Ini karena YCKK baru memiliki dua relawan (volunteer) yang siap bekerja tanpa digaji, serta baru punya dua ruang terapi.
Autis merupakan kelainan perilaku dimana penderita hanya tertarik pada aktivitas mentalnya sendiri (seperti melamun atau berkhayal). Gejala ini umumnya mulai terlihat ketika anak berumur tiga tahun.
Menurut buku Diagnosis and Statistical Manual of Mental Disorders-Fourth Edition (DSM-IV), gangguan autis dapat ditandai dengan tiga gejala utama, yaitu gangguan interaksi sosial, gangguan komunikasi, dan gangguan perilaku. Gangguan perilaku dapat berupa kurangnya interaksi sosial, penghindaran kontak mata, serta kesulitan dalam bahasa.?
Gangguan autis pada anak-anak memperlihatkan ketidakmampuan anak tersebut untuk berhubungan dengan orang lain atau bersikap acuh terhadap orang lain yang mencoba berkomunikasi dengannya. Mereka seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri, bermain sendiri, dan tidak mau berkumpul dengan orang lain. Namun, anak autis biasanya memiliki kelebihan atau keahlian tertentu, seperti pintar menggambar, berhitung atau matematika, musik, dan lain-lain.? ?
Penyebab autis sejauh ini belum diketahui dengan pasti, namun diduga kuat berkaitan dengan faktor keturunan, khususnya hubungan antara ibu dan janin selama masa kehamilan.
Terapi yang tepat untuk anak autis sangat bersifat individual. Untuk itu dibutuhkan seorang yang ahli dalam terapi autis untuk mengenali dan memberikan apa yang dibutuhkan oleh sang anak agar dapat tumbuh berkembang secara baik. Salah satu terapi yang digunakan adalah dengan meningkatkan kemampuan untuk berbagi (sharing) sehingga dapat mendorong mereka untuk lebih berinteraksi dengan lingkungannya.
?
Jika terjadi kelainan perilaku pada anak, sebaiknya langsung dikonsultasikan ke dokter. Hal tersebut bertujuan agar dokter secepatnya dapat memberikan tindakan pengobatan atau latihan khusus sejak dini terhadap anak yang mengalami keadaan tersebut.